Bencana di Negeri Baterai Asia

Ambisi Laos menjadi negara sumber energi bagi negara tetangga berubah menjadi malapetaka. Ambisi Laos, negara komunis miskin di Asia Tenggara, untuk menjadi “Baterai Asia”— menyalurkan energi melalui pembangkit listrik tenaga air kepada negara-negara tetangga—Senin petang lalu menjadi malapetaka.

Sebuah bendungan bernilai miliaran dolar Amerika Serikat jebol dan mengalirkan 5 miliar kubik air ke sejumlah desa di wilayah selatan Laos. Air setara dua juta kolam renang ukuran Olimpiade ini membanjiri sejumlah desa di Provinsi Attapeu, dekat perbatasan dengan Vietnam dan Kamboja. Kemarin, sedikitnya 19 jasad ditemukan dan ratusan lainnya masih hilang.

Gubernur Bounhom Phommasane, seperti dikutip Vientiane Times, mengatakan lebih dari 3.000 orang membutuhkan pertolongan karena masih terjebak di atas rumah hingga pepohonan. Adapun 2.851 orang telah diselamatkan.

baca juga : http://shalomcincy.org/tips-merawat-mesin-genset/

Rekaman video musibah ini menunjukkan warga menyelamatkan diri di atas atap rumah mereka yang terendam, atau mengarungi air, sambil memegang anakanak dan barang-barang mereka. Seorang wanita, terlihat dalam sebuah video yang diunggah oleh kantor berita ABC Laos di Facebook, menangis dan berdoa ketika dia dievakuasi dengan perahu.

Ia mengatakan kepada tim penyelamat bahwa ibunya masih terdampar di pohon. “Kami akan melanjutkan upaya penyelamatan hari ini, tapi sangat sulit, kondisinya sangat sulit,” kata seorang pejabat yang bermarkas di Vientiane kepada Reuters. “Puluhan orang mati.

Bahkan jumlahnya bisa lebih banyak.” Bendungan yang runtuh adalah bendungan bantu yang disebut “Saddle Dam D”. Ini adalah bagian dari jaringan dua bendungan utama dan lima bendungan tambahan dalam proyek pembangkit listrik tenaga air Xe-Pian Xe-Namnoy.

Bendungan senilai US$ 1,2 miliar itu adalah bagian dari proyek oleh Xe Pian Xe Namnoy Power Company (PNPC) di Vientiane, perusahaan patungan yang dibentuk pada 2012 oleh perusahaan Laos, Thailand, dan dua perusahaan Korea Selatan.

Ratchaburi Electricity Holding—perusahaan Thailand—menyatakan bendungan tambahan 770 meter yang digunakan untuk mengalihkan air sungai jebol setelah hujan lebat turun selama beberapa hari. “Insiden itu terjadi karena hujan turun terus-menerus, yang mengakibatkan volume air yang sangat tinggi mengalir ke waduk proyek,” katanya dalam sebuah pernyataan.

PLTA berkapasitas 410 megawatt itu seharusnya mulai beroperasi pada 2019. Proyek ini terdiri atas serangkaian bendungan di atas Houay Makchanh, Xe-Namnoy, dan Sungai Xe-Pian di Provinsi Champasak. Rencananya, 90 persen listriknya akan diekspor ke Thailand dan sisanya akan ditawarkan di jaringan lokal.

Pembendungan Mekong dan anak-anak sungainya sudah lama menjadi kontroversi. Sungai Mekong membentang 2.700 mil dari Dataran Tinggi Tibet di Cina ke Delta Mekong yang luas di Vietnam, melewati perbatasan Myanmar dan Thailand, lalu mengalir melalui Laos, Kamboja, dan Vietnam sebelum berakhir di Laut Cina Selatan.

Laos—negara komunis yang terkurung daratan dan terisolasi dari bagian dunia lainnya—adalah salah satu negara termiskin di Asia. Para pemimpinnya melihat tenaga hidroelektrik dapat dimanfaatkan sebagai kunci pertumbuhan.

“Begitu mereka berambisi sebagai baterai Asia, mengekspor listrik menjadi salah satu sumber pendapatan utama. Jadi pada dasarnya menjual sumber daya alam seperti air,” ujar Toshiyuki Doi, penasihat senior di Mekong Watch.

Namun banyak pihak khawatir upaya membendung Sungai Mekong akan menyebabkan kerugian ekonomi yang lebih besar karena menghancurkan perikanan serta merusak wilayah pertanian delta yang bergantung pada aliran sedimen dari bagian atas sungai.

“Bencana ini menimbulkan pertanyaan besar tentang standar bendungan dan keamanan bendungan di Laos, termasuk kesiapan mereka untuk menghadapi kondisi cuaca dan risiko,” tutur Maureen Harris, seorang ahli bendungan Laos dari International Rivers.

Apalagi para korban adalah warga yang dipaksa relokasi atau mengalami dampak karena pembangunan bendungan itu. Tahun lalu, Radio Free Asia yang didanai Amerika melaporkan bahwa penduduk dari tiga desa terpaksa pindah untuk mengakomodasi pembangunan bendungan.

Penduduk mengatakan tanah alternatif yang diberikan tidak cocok untuk pertanian. “Daerah yang disediakan oleh pemerintah tidak cocok untuk pertanian,” kata seorang warga kepada RFA. “Kami tidak dapat menanam apa pun di sana, bahkan mentimun. Kami akan miskin jika kami terus tinggal di sana. ”